Hutan Papua Harapan Dunia, Gerakan Mitigasi Perubahan Iklim

Pergerakan bersama Gereja.

KBRN, Jayapura : Wakil Gubernur Papua, Aryoko Rumaropen resmi membuka Seminar Perubahan Iklim dan Transformasi Ekonomi Hijau Berbasis Umat bersama Gereja-Gereja di Tanah Papua pada, Jumat (28/11/2025).

Seminar sehari ini merupakan inisiasi dari Yayasan Griya Jati Rasa bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) GKI I.S. Kijne Jayapura.

Dalam sambutannya, Wagub Rumaropen menekankan bahwa upaya perubahan iklim adalah pekerjaan rumah yang memerlukan gerakan bersama, termasuk peran aktif dari lembaga agama.

Hal ini penting untuk memastikan terbentuknya generasi yang cerdas serta terwujudnya pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan demi masa depan Papua.

“Hutan Papua menjadi benteng terakhir penyangga kehidupan, upaya mitigasi perubahan iklim tidak bisa dilakukan pemerintah, tetapi menjadi gerakan seluruh komponen masyarakat termasuk lembaga keagamaan,” ucap dia.

Sementara Direktur Yayasan Griya Jati Rasa, Farsijana Risakotta menyampaikan harapannya agar pemerintah dan seluruh elemen masyarakat terus mengawal dan menjaga hutan Papua.

“Hutan Papua adalah harapan terakhir bagi hutan Indonesia yang utuh, bahkan dunia karena 40 persen hutan didunia ada di Papua. Ini harus ada gerakan untuk mitigasi perubahan iklim,” kata Farsijana.

Ia juga menyoroti bahwa adanya regulasi atau Otonomi Khusus, pemerintah seharusnya mengakui dan menghormati hak-hak masyarakat hukum adat Papua atas sumber daya alam, termasuk hutan.

Ditambahkan Ketua STFT GKI I.S. Kijne Jayapura, Pdt. Diana Jembise, memberikan apresiasi pemerintah Papua dan Yayasan Griya Jati Rasa atas dukungannya terhadap program gereja dalam menjaga bumi.

Menurutnya, seminar ini menjadi bukti pentingnya kolaborasi untuk menghadapi krisis lingkungan dan ketidakadilan.

“Inisiatif ini juga diharapkan mampu mendorong terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan di Papua. Inilah tanggung jawab kita sebagai orang percaya,” ucapnya.

Sebagai bentuk nyata komitmen bersama dalam target penurunan emisi hingga 17,5 persen menuju Indonesia Emas 2045, Yayasan Griya Jati Rasa turut menyerahkan bibit tanaman nyamplung.

Bibit ini diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai langkah konkret dalam mitigasi perubahan iklim.

Berita diambil dari RRI Provinsi Papua.

Leave a Comment