Yayasan Griya Jati Rasa Gelar Seminar Sosialisasi dan Tindakan Aksi Solusi Perubahan Iklim dan Transformasi Ekonomi Hijau Bersama Gereja-Gereja di Jawa

Pergerakan bersama Gereja.

Ketika pemerintah Indonesia melalui Kementrian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) membuat komitmen terkait dengan proyeksi penurunan emisi 8 hingga 17,5% sebagai langkah menuju Indonesia Emas 2045, seperti disampaikan pada pertemuan Konfrensi Perubahan Iklim PBB (COP 30) di Belém, Brasil yang berlangsung 10-12 November 2025. Maka mengakhiri bulan November 2025, pada tanggal 25, Yayasan Griya Jati Rasa melakukan Sosialisasi dan Tindakan Aksi Solusi Perubahan Iklim dan Transformasi Ekonomi Hijau Berbasis Umat Bersama Gereja-Gereja di Jawa. Kegiatan ini dilakukan di Kebun Alpukat GKJ Paliyan Panthan Menggoro Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta. Peserta yang menghadiri kegiatan terdiri dari Wakil Bidang Kesaksian dan Pelayanan Klasis GKJ Yogyakarta Utara, Yogyakarta Selatan, Yogyakarta Barat, Kulonprogo, Gunungkidul dan Klaten Barat.

Ada 2 agenda kegiatan yaitu, pertama seminar dengan 3 narasumber. Pertama, Farsijana Adeney-Risakotta, Direktur Yayasan Griya Jati Rasa yang membahas Bangunan Teologi Mitigasi Perubahan Iklim dan Transformasi Ekonomi Hijau Berbasis Masyarakat sebagai Dasar Pergerakan Mitigasi Perubahan Iklim di Mana Gereja-Gereja di Tanah Jawa dan di Tanah Papua terlibat. Kedua, Dr. Perminas Pangeran, M.Si, Dekan Fakultas Bisnis, Universitas Kristen Duta Wacana membahas  Bentuk Transformasi Ekonomi Hijau yang Memberdayakan Masyarakat dan Umat. Ketiga, KH Beny Susanto, S.Ag., M.Si, Ketua Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa dan Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Bantul membahas Tantangan Undangan Organisasi Agama di Indonesia dalam Keterlibatan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Seminar dimoderatori oleh Muhammad Thonthowi, S.HI, Wakil Sekretaris PCNU Gunungkidul.

Pada bagian kedua dilakukan pembekalan pembibitan dan persemaian biji menjadi bibit untuk ditanam. Narasumber Bapak Haris dari PT. Pandu Wijaya Negara yang secara khusus melatih pembibitan biji nyamplung. Baik peserta seminar dan pembekalan menerima bibit tanaman nyamplung untuk ditanam dilahan masing-masing. Areal penanaman terbanyak ada di lokasi Kebun Alpukat GKJ Paliyan Panthan Menggoro Gunung Kidul. Sementara peserta pembekalan menerima keterampilan pembibitan biji nyamplung bisa menjadi usaha kehutanan dari kelompok. Bibit nyamplung dari pesemaian PT. Pandu Wijaya Negara yang adalah anggota Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa. Nyamplung adalah tanaman serapan karbon yang bisa juga dijadikan biofuel melalui olahan bijinya.

Farsijana Adeney-Risakotta dalam sambutan pembukaan kegiatan menjelaskan bahwa kegiatan ini serentak dilakukan di Jawa dan di Jayapura, Papua. Tujuannya adalah mempersiapkan umat untuk bisa terlibat dalam pasar karbon sukarela. Kedepan mereka akan dilatih untuk menghitung serapan karbon yang dihasilkan dari tutupan pohon-pohon yang ditanam sehingga bisa mempunyai nilai ekonomi sekaligus berpartisipasi dalam penurunan emisi gas rumah kaca. Dengan begitu hutan di Jawa dan di Papua bisa memberikan kontribusi bagi penurunan emisi yang menjadi target pemerintah untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Sementara Bapak Rismiyadi, S.P., M.Si, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul yang mewakili Bupati Gunungkidul, dalam sambutannya mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini karena turut mendukung penurunan angka kemiskinan di Gunungkidul. Pdt. Subagyo mewakili Klasis Gunungkidul berterima kasih kepada pemerintah kabupaten Gunungkidul dan Yayasan Griya Jati Rasa dalam mendukung program gereja merawat bumi. Pada perayaan hari ulang tahun Klasis GKJ Gunungkidul ke-56 tahun. Ibu Bupati Gunungkidul, Ibu Endah Subekti Kuntariningsih, S.E., M.Si menghadiri penanaman pohon di areal Semanu, Gunungkidul. (Farsijana)

Leave a Comment