Songsong 1 Abad Sumpah Pemuda: Jaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, Jaga Bumi, Budayakan Net Zero Emisi
- Tanggal : 28 October 2025
- Jam : 19:19
Pemuda untuk Bumi
Yayasan Griya Jati Rasa mengorganisir perayaan 97 tahun Sumpah Pemuda di Kalurahan Giricahyo, Kapenawon Purwosari, Kabupaten Gunung Kidul. Temanya adalah Perayaan Sumpah Pemuda Mempersiapkan Desa Wisata Berbudaya Net Zero Emisi di Kalurahan Giricahyo, Purwosari, Kabupaten Gunung Kidul. Kegiatan ini adalah hasil kerjasama antara Yayasan Griya Jati Rasa dengan pemerintah kalurahan Giricahyo yang penyelenggaraanya di Joglo Mbah Gendruk, Padukuhan Jambu, Giricahyo. Jumlah peserta kurang lebih 97 orang terdiri dari pemerintah kalurahan Giricahyo, pemerintah Kapanewon Purwosari dan muspika, warga masyarakat lokal dan mitra Yayasan Griya Jati Rasa yaitu organisasi masyarakat yang bersama-sama melakukan deklarasi mitigasi perubahan iklim dan transformasi ekonomi hijau berbasis masyarakat. Wakil-wakil pemuda yang berasal dari berbagai propinsi, mereka yang sedang belajar di DI.Yogyakarta juga menghadiri acara yang berbahagia ini.
Yayasan Griya Jati Rasa telah melakukan berbagai kegiatan bersama pemerintah kalurahan lebih dari satu dekade. Pada tanggal 16 Juni 2025, Yayasan Griya Jati Rasa memimpin delegasi pergerakan mitigasi perubahan iklim dan transformasi ekonomi hijau berbasis masyarakat untuk bertemu pimpinan Bapperinda DI.Yogyakarta dalam rangka menyampaikan beberapa usulan tindakan aksi mitigasi perubahan iklim dan transformasi ekonomi hijau berbasis masyarakat, yang salah satunya adalah mempersiapkan kalurahan Giricahyo menjadi kalurahan net zero emisi pada tahun 2030. Bersamaan dengan perayaan hari Sumpah Pemuda ke-97, Yayasan Griya Jati Rasa kembali mengorganisir kegiatan seminar untuk mendorong tercapainya penetapan kalurahan Giricahyo sebagai kalurahan net zero emisi pada tahun 2030.
Jalan menuju kalurahan net zero emisi masih panjang. Kalurahan Giricahyo mempunyai sederetan potensi dari sumber daya alam yang berada di areal hijau di wilayah terlindung geopark UNESCO Gunung Sewu di sebelah barat. Dengan pusat atraksi panorama tebing yang terkenal dengan destinasi wisata Watu Gupit Landasan Paralayang, Obelix Sea View, kalurahan Giricahyo harus bisa dipersiapkan untuk mengerti bagaimana peranan pribadi dalam berkelompok memberikan kontribusi yang besar dalam pelaksanaan pasar karbon sukarela. Dengan kemampuan masing-masing anggota masyarakat dalam menghitung jumlah emisi karbon yang dihasilkan sebagai jejak karbon, diharapkan, berbagai kelompok kerja (pokdarwis, kelompok tani pertanian, kelompok tani hutan, kelompok PKK dll ) yang telah terbentuk dapat terlibat secara nyata untuk mengerti tentang perannya menghitung jejak karbon masing-masing maupun kapasitas emisi karbon yang terserap oleh pohon yang ditanam oleh masing-masing orang.
Terbentuknya kapasitas warga untuk menghitung emisi karbon terserap oleh pohon-pohon yang ditanam sendiri akan menolong peningkatan kemampuan untuk bisa terlibat dalam pasar karbon sukarela. Regulasi negara tentang pasar karbon, memungkinkan warga masyarakat bisa mendapat sertifikasi pemilikan karbon yang dapat ditukarkan kepada calon pembeli yang hendak menggantikan jejak karbonnya karena melakukan perjalanan internasional dengan pesawat atau perjalanan domistik. Dengan tersedianya karkulator hijau yang bisa diakses melalui google player, yang dibuat oleh Bank Indonesia, kemampuan warga bisa dilatih sehingga kegiatan mitigasi melalui penanaman pohon juga mempunyai nilai ekonomi. Proses pengorganisasian pasar karbon bisa dilakukan melalui Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa.
Ringkasan presentasi dari Farsijana Adeney-Risakotta Ph.D selaku Direktur Yayasan Griya Jati Rasa tentang pariwisata terintegrasi yang menghubungkan ekowisata dan pasar karbon di kalurahan Giricahyo, dan presentasi dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DI.Yogyakarta tentang regulasi yang memungkinkan warga non pengusaha bisa terlibat dalam pasar karbon mendapat tanggapan dari tiga penanggap. Pertama, Dr Ahmad Sihabul Millah, M.A, selaku Rektor Institute Ilmu Alquran An Nur sebagai penanggap tentang tantangan umat beragama dalam merencanakan keterlibatan di pasar karbon berbasis masyarakat pedesaan. Kedua, Drs. Kisworo M.Sc selaku dosen Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana sebagai penanggap terkait dengan pemetaan potensi eko-wisata sebagai fondasi dalam perintisan pasar karbon berbasis masyarakat di kalurahan Giricahyo. Penanggap terakhir adalah Ir. Edi Supriyanto dari PT Panduwijaya memberikan perhatian untuk menjawab bisakah masyarakat pedesaan menyelenggarakan pasar karbon? Acara dibuka dengan penyampaian bersama deklarasi Sumpah Pemuda sambil masing-masing peserta mengibarkan bendera yang berisi tulisan Songsong 1 Abad Sumpah Pemuda: Jaga Negara Kesatuan Republik Indonesia,Jaga bumi, budayakan net zero emisi. Lagu Indonesia Raya berkumandang menguatkan semua partisipan, menjaga bumi Indonesia adalah tanggungjawab kami bersama (Farsijana).
